Sabtu, 30 November 2013

Bumi adalah Cermin

Written by Unknown


Peluru misterius itu tidak cukup bisa melumpuhkan makhluk ini. Remaja baru yang ternyata adalah kakak Jo itu langsung menujukan posisinya kepada orang orang camp ini dengan mendekat kearah makhluk itu. Ia mengarahkan anak panah tepat ke kepala makhluk itu. Kemudian makhluk itu menghindar, namun elakannya tak dapat membuat otot-otot tipis makhluk itu luput dari anak panah. Membuat makhluk itu terkunci tepat diatas tanah yang penuh dengan selaput dan lendir dari mahluk itu.

"Cukup!" Helena menghentikan remaja itu untuk menembakan anak panahnya yang kedua

"Kita butuh makhluk ini"
Read More

Kamis, 24 Oktober 2013

Mereka Terbang!

Written by Unknown


Helena menoleh cepat, matanya mengikuti langkah remaja yang berlari tadi. Ia melipat tangannya santai melihat ibu dan anak itu bernostalgia. Di belakang mereka ada Jo yang ikut berlari memeluk kakaknya. Mata Helena berubah sendu. Andai ia bisa melakukan hal yang sama.

"Hei.." kata J meninju kecil pundak Helena sambil tersenyum. Senyumnya membuat Helena tenang.
Sebelum sempat mengatakan sesuatu J ditarik dr. Greg menuju Gutav. Helena menaikkan pundaknya acuh tak acuh dan berbalik pergi.
Read More

Sabtu, 24 Agustus 2013

Bala Bantuan

Written by Unknown


Sebelumnya tidak ada yang menyadari bahwa kehidupan mereka kini telah berubah. Mereka hanya seperti mengikuti aliran sungai yang tenang dan kadang bergejolak di udara yang lembab. Mereka masih seperti orang yang suka berbelanja atau menonton siaran TV yang rusak juga serial TV yang diulang ulang. Hanya saja namanya kini telah berubah menjadi berburu dan nostalgia. Atau insomnia di saat kau menginginkan tidur dan mengantuk di saat kau menginginkan terjaga.

Read More

Kamis, 22 Agustus 2013

Buku Lama

Written by Unknown


Luke berjalan menjauh sambil memperhatikan Tera dan Jo. Entah kenapa keberadaan mereka menarik perhatiannya. Ia teringat saat memergoki Tera membaca tadi. Pikirannya sedikit tertuju ke rasa penasarannya sejak tadi. Jangan-jangan ia membaca buku itu..

"Ah.." kata J pelan saat tidak sengaja menabrak Luke dari belakang.

Read More

Jumat, 16 Agustus 2013

Tentang Cerita Ini pt.2

Written by Unknown



Halo dengan Ray disini. Hanya ingin menambahkan yang sudah ditulis Lia pada ekstra sebelumnya. Kali ini penulis ingin membuat pembaca tahu sejauh mana cerita ini dan apa saja yang telah diciptakan para penulis dalam cerita ini. Baiklah ini kronologi singkat dari cerita yang sudah ada.

Read More

Kamis, 15 Agustus 2013

Tempat Aman

Written by Unknown


Jo telah tertidur sekarang. Matanya mengedip-ngedip cepat sambil terpejam. Anak kecil yang malang. Pikir Tera. Ia duduk di samping Jo. Setengah memeluknya dari pertama bertemu hingga sekarang. Tera menghela napasnya, pikirannya masih belum tenang karena ia belum menemukan Alex.
Read More

Selasa, 13 Agustus 2013

Planet yang Hilang

Written by Unknown


Sebuah planet dan 12 lainnya yang mengelilingi bintang Eldes. Cahaya redupnya sampai pada titik mata seorang anak, menembus jiwanya yang teguh dan juga menghangatkan samudra yang berwana jingga. Tumbuh-tumbuhan kering di tanah yang tandus tapi cukup untuk membuat  udara , kertas kertas poster sebagian berserakan tertiup angin dan makanan instan disusun dengan rapih dalam lemari. Semua terlihat sehat dan tertata rapi berkat kepemimpinan yang adil.

Read More

Selasa, 06 Agustus 2013

Tentang Cerita Ini pt.1

Written by Unknown


Halo, posting kali ini bukan tentang cerita yang biasanya sambung menyambung. Berhubung kita udah ngepost cukup banyak mungkin harus ada break dulu kali ya. Jadi, ini nih sekilas info yang bisa disimpulin tentang dunianya J sama Helena.
Read More

Sabtu, 03 Agustus 2013

Lari! Cepat Lari!

Written by Unknown


Sesaat ruangan itu sepi kembali setelah mahluk makluk tadi sempat mencurigai bunyi suara tembakan dari dalam apotek. Tera menempelkan sebuah metronome dari toko peralatan musik ke granat yang ia jarah dari toko senjata yang pemiliknya mati menembakan pistol ke kepalanya sendiri. Tera mengatur ketukannya menjadi 240 bpm lalu melemparkannya jauh dari apotek. Membuat makhluk-makhluk itu berkumpul mendekat ke arah suara metronome sebelum akhirnya granat itu meledakan mereka.

"Jadi Jo nama gadis kecil itu. Bahkan aku belum sempat tahu namanya" kata Luke

Read More

Senin, 29 Juli 2013

Bertahan

Written by Unknown


Tera menutup pintu besi apotek milik suaminya. Mendiang suaminya. Ia masih bisa melihat Jo menangis di dalam sambil mengulurkan tangannya meminta pelukannya.
"Tetap di sini, ibu janji akan kembali. Ibu akan mencari Alex, tunggu ya" kata Tera tersenyum sambil menangis mencoba menenangkan anaknya yang menangis. Ia mengunci rapat-rapat pintu yang ada di paling depan dan berbalik sambil menembakan pistolnya ke setiap makhluk yang mendekat. Ia harus kembali ke rumah mencari Alex. Kakak Jo.
Read More

Sabtu, 27 Juli 2013

Sebuah Tembakan

Written by Unknown


"Aku menambahkan alat navigasi dan prototype baru ini yang aku rasa Shinji dapat membuat programnya untuk dipasangkan ke alat ini" Helena bilang

"Setelah itu kita dapat melihat gambar?" tanya dr. Greg.

"Aku harap begitu" sambil memegang tangan J yang gugup dan bersiap siap menyuntiknya

"pelan pelan.. Tunggu. Bagaimana bisa Shinji membuat programnya sementara switch sedang berjalan? kau ingat, hanya helm ini yang membuatnya ada di dunia nyata dan harus selalu terpasang di kepala" kata J

Read More

Kamis, 25 Juli 2013

Rumah

Written by Unknown


Helena membawa bungkusan-bungkusan bahan mentah dan bahan makanan lainnya ke dapur dr. Greg. Cahaya lilin menerangi lorong menimbulkan bayangan-bayangan yang misterius membuatnya awas dan mengecek seluruh ruangan sebelum melakukan sesuatu. Ia meletakkan bahan-bahan itu dengan rapi di lemari dan meja-meja yang belum terpakai untuk mengganjal pintu dan jendela. Helena menghela napas sambil mengumpulkan beberapa bahan untuk ia masak sambil berpikir betapa beruntungnya ia karena rumah dr. Greg memiliki sumur dan juga tabungan air di bawah tanah, sehingga mereka tidak akan kekurangan air untuk beberapa hari ke depan. Ia mencuci dan memotong bawang dan sayur-sayuran dengan perlahan. Berhat-hati karena ini baru kesekian kalinya ia memasak dan sekarang adalah bukan waktu yang bagus untuk memotong putus jarinya sendiri. Pandangannya sedikit buram, ia mendengus sedikit ingin tertawa karena kesedihannya bertepatan saat ia memotong bawang. Beberapa titik air mata turun langsung menuju pipinya. Entah karena sedih dan rindu rumah atau bawang bombai mengiritasi matanya. Helena mengerjapkan matanya lalu mengedipkannya beberapa kali sambil memasak bahan makanan yang ia siapkan.
Read More

Setiap Orang adalah Pengembara

Written by Unknown


"ini obatmu.. dan ini seorang anak" kata Luke kepada Helena

"Siapa dia?"

"hey, kau boleh membuka mata sekarang (kepada anak itu). Entahlah, aku menemukannya di sebuah apotek sendiri di dalam lemari. Kurasa ibunya telah menghilang." sambil meletakan obat obat yang ia bawa tadi

Read More

Rabu, 24 Juli 2013

Makanan dan Obat

Written by Unknown


Di tengah kota. Shinji terseok-seok berjalan tepat di tengah jalan besar. Tubuhnya berwarna biru kelabu tidak menunjukkan tanda kehidupan. Satu-satunya pencahayaan di jalan-jalan utama itu hanyalah lampu jalan yang menggunakan energi matahari. Sisanya gelap. Gedung-gedung megah yang seringkali menimbulkan polusi cahaya kini telah hilang. Digantikan oleh gedung gelap dengan banyak cipratan darah disekitarnya. Banyak orang-orang yang terlihat seperti Shinji juga berjalan hilir mudik tak tentu arah. Mengerikan. Beberapa bahkan saling memakan karena tidak ada lagi makanan yang tersisa di lingkungan yang sudah mati itu. Sudah beberapa hari sejak Shinji bertukar pikiran dengan J. Wajah papa Greg masih terbayang-bayang di benaknya. Gambaran rumah yang nyaman membuatnya ingin kembali memutar waktu. Di pojokan ruangan, Shinji meringkuk. Pasrah dengan apa yang akan dilakukan tubuhnya. Shinji menatap monitor besar di ruangan itu. Monitor yang ia ciptakan untuk melihat dunia luar melalui mata di tubuhnya yang sudah mati.  Ia berharap J melakukan switch secepatnya karena ia sudah tidak tahan lagi berada ditubuh ini.
Read More

Minggu, 21 Juli 2013

Pahlawan Dunia

Written by Unknown


"tapi kenapa?" sambil memegangi pipinya yang merah

"tapi tadi kau.."

"ya memang benar semua yang ku katakan itu" kata J sambil malu

"bodoh sekali, mengapa jadi terucap" ujar J dalam hati

 Helena terlihat merunduk dan menahan senyum

"oh ya ada sesuatu yang harus aku beritahu dengan Greg dan Luke" sambil berlari ke arah mereka mencoba lari dari situasi itu

Read More

Sabtu, 20 Juli 2013

Bangun

Written by Unknown


Shinji membuka matanya. Perlahan-lahan berharap tidak bangun di tubuhnya sendiri. Ia duduk lalu merasakan berat di kepalanya. Sebuah helm besar bertengger di kepalanya, dengan sedikit bersemangat ia melepaskan helm itu. hahahah suara napasnya cepat bersemangat. Ia melihat telapak tangannya lalu punggung tangannya bergantian. Ia lalu merasakan jantungnya berdegup dengan irama yang menenangkan, dug dug dug. Hebat! pikirnya. Walaupun sedikit aneh rasanya berada di tubuh orang lain.

Read More

Jumat, 19 Juli 2013

Sepi

Written by Unknown


"Kau setuju?"

"hm.." J mencoba membuat keputusan

"tenang saja aku akan kembali, ini tidak akan lama." Shinji terenyum meyakinkan J

"gelombang ini tidak akan lama bertahan. Karena dua fikiranlah yang mengaturnya. Sekarang tekan konsol itu." Shinji meletakan tangan J diatas sinar hologram yang diciptakan olehnya di dalam fikirannya sendiri, dan kemudian tangannya juga. Ia bersemangat sekali untuk ini.

Read More

Rabu, 17 Juli 2013

Teman Baik

Written by Unknown


Helena memandang J membuka matanya. Seperti orang baru bangun. Ia sedikit terhuyung melepaskan "helm" nya dan bangkit berdiri. Untuk sesaat ia memandangi tangannya sendiri lalu memegang dadanya.

"Luar biasa!" kata dr. Greg sambil masuk ke ruangan tempat J berada. Untuk sesaat wajah J sedikit berubah seperti senang dan rindu ketika melihat dr. Greg. Helena menyadari ekspresi J. Lalu seperti sadar sedang diperhatikan ekspresi J kembali normal.

Read More

(Bukan) Sendiri

Written by Unknown


Sudah hampir seminggu setelah Shinji kabur. Penyebaran virus itu begitu cepat. Akses perbatasan di beberapa negara telah diperketat, namun muncul dugaan virus menyebar lewat udara. Beberapa saksi menyebutkan sebuah kota terpencil di Australia mengalami hal serupa, padahal pemerintah kota setempat telah menutup akses masuk ke daerah itu. Di zona merah tempat lokasi Shinji kabur memang tempat tercepat dan terentan penyebarannya.

"ya, itu hanya butuh sedikit sentuhan saja" kata Helena.

Luke menelan makanannya dalam dalam. Ia mengangkat kedua tangannya itu sambil memegang helm tersebut seperti.. "bagaimana bisa?" tanpa suara.
Read More

Selasa, 16 Juli 2013

Jenius Lainnya

Written by Unknown


Sudah ber jam-jam Luke sibuk mengutak atik helm yang rencananya akan digunakan J untuk menghubungi Shinji. Di ruangan lain dr. Greg sibuk menghubungi semua teman-temannya menggunakan semua alat komunikasi yang ia punya. Ia amat sangat membutuhkan seorang yang jelas lebih genius dan brilian daripada Luke untuk membuat alat itu berfungsi dalam sekejap.Tapi sepertinya usaha dr.Greg sia-sia, hampir semua teman yang dihubunginya tidak menjawab dan sebagian lainnya menolaknya mentah-mentah. Walaupun dr. Greg sudah menjelaskan mereka akan di jemput oleh Luke kebanyakan tidak percaya atau tetap ingin bersama keluarga mereka dalam situasi seperti ini.

Read More